Roller Coaster menjadi pasien Depresi

Beberapa bulan ini saya sudah menjadi pasien Psikiater, ya di tulisan saya sebelumnya kan saya cerita karena saya ada gangguan anxiety, insomnia karena depresi saya. Depresi saya tingkat sedang. Berbulan-bulan ini tidur saya mengandalkan obat tidur, dan depresi saya dikurangi gejalanya dengan anti depresan. 

Yang jadi masalah, obat tidur saya yang sebelumnya Lorazepam sudah gak mempan lagi dan akhirnya waktu saya konsul dengan psikiater, akhirnya Lorazepam saya diganti jenis Alprazolam. Mungkin teman-teman tau alprazolam adalah kandungan obat tidur merk dagang Xanax salah satunya. Saya gak promosi obat tidur ya😆. Oh iya penggunaan obat tidur dan anti depresan HARUS dengan resep dokter ahli kesehatan jiwa atau Psikiater dan dokter spesialis yg relevan. Saya sudah mulai pusing karena obat tidur saya biarpun sudah diganti kadang gak bisa membuat saya tidur cukup. Yang ada mood saya seperti roller coaster
Kalau dibilang saya lelah dengan kondisi begini, jujur saja iya pasti semua orang depresi lelah dengan kondisi begini. Saya yang masih suka self-harming dan kadang masih berpikir untuk mengakhiri hidup saya juga sudah lelah dan letih menerima benturan dalam hidup saya. Saya menyalahkan diri sendiri, mulai muncul seandainya saya begini, seandainya saya begitu....dst.
Mungkin teman-teman ada yang pernah ngalamin seperti saya, yang untuk sebagian orang yang literasinya buruk untuk depresi dan menganggap depresi adalah gila, saya sangat marah dan menentang hal itu. Makanya saya selalu menutupi masalah yang saya hadapi, saya memilih menguburnya rapat-rapat ketika ada orangtua, kakak saya atau adik saya. Saya bisa menampilkan senyum palsu "saya baik-baik saja, I'm okay". Tapi dalam hati saya yang sudah gak berbentuk lagi, karena perasaan saya yang hancur ditambah membatu karena seseorang yang menyakiti hati saya, yang menjadi sumber kekecewaan dalam hidup saya, yang akhirnya saya memutuskan merubah hati saya menjadi batu dan gunung es. Jujur sebagian besar depresi saya dirasa makin membesar karena kesedihan saya kehilangan mendiang papa saya. Saya memang dekat dengan cara yang aneh dengan papa saya. Papa saya tipe orang yang nyeleneh karena bentuk perhatiannya dengan cara ngomel ke saya. Tapi papa saya orang yang diam-diam memperhatikan saya dan menangis ketika saya didiagnosis dokter Kanker Tiroid dan harus berobat sepanjang saya masih diberikan Tuhan hidup.

Saya mencoba sekuat tenaga melepaskan rasa marah, sedih, frustasi, merasa tidak diinginkan dan perasaan negatif lainnya. Mencoba menyerahkan semua beban hidup saya kepada Tuhan. Sampai detik ini saya masih berusaha..
Semoga teman-teman diluar sana yang sama mengalami mental illness seperti saya baik-baik saja dan teruskan pengobatan dengan Psikiater ya.

-MJ13082020-

Komentar

Postingan Populer